Ustad Dari Jogya Ini Miliki Kujang Emas Peninggalan Prabu Siliwangi

1
Kujang Emas Peninggalan Prabu Siliwangi terawat baik oleh pemiliknya Ustad Abdul Hadi.

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Pernah mendengar atau membaca kasus heboh penggalian harta karun di Prasasti Batu Tulis, Bogor yang dilakukan Menteri Agama RI pada era Pemerintahan Mewagati pada 2002 silam?

Kehebohan itu sempat menggemparkan Indonesia bahkan menyulut konflik terutama warga Bogor, karena dipercaya dalam situs itu terdapat berton-ton emas yang diperkirakan dapat melunasi hutang Indonesia yang kini jumlahnya lebih dari Rp3000 triliun.
Situs itu diketahui luas merupakan hasil peninggalan Prabu Siliwangi, Raja tersohor dari tanah Pasundan, Jawa Barat.

Cerita itu berlalu, tetapi saat ini salah satu benda pusaka Prabu Siliwangi seperti Kujang Emas telah ditemukan sejak 2006 setelah empat tahun kehebohan penggalian situs oleh Menteri Agama Said Agil Al Munawar.

Seorang ustad bernama Abdul Hadi mengakui jika dirinya memiliki kujang Emas sebesar 500 gram. Kujang itu diperoleh dari tanah sekitar Istana Bogor. Dia mendapatkan itu, berawal dari berita penggalian harta karun di Bogor. Abdul Hadi mengaku mendapatkan sekitar 2006 dan butuh dua tahun untuk mendapatkan melalui bantuan guru spritualnya.

“Saya tanya kepada guru saya mbah Hasyim yang punya kemampuan merogoh sukmo. Apakah disitu ada harta karun emas. Dijawab tidak ada. Tapi katanya ada pusaka yang bagus. Kujang emas,” katanya menceritakan dialognya dengan Mbah Hasyim.

Prosesnya itu katanya berlangsung dua tahun karena memang butuh kesabaran luar biasa. Bahkan sampai lima kali usaha itu dilakukan dan sang guru baru bersedia membantu bersama kawannya mengambil harta karun Kujang Emas.

“Tanah dari istana Bogor itu kita ambil sedikit. Kita tarik dari luar, bersama guru saya dan temannya. Tanah yang kita ambil ini kita campur tanah lainnya dan kita bentuk kujang kemudian dicelupkan di air dan terbentuk kujang emas. Itu tidak ada karatnya sama sekali,” jelasnya kepada inibalikpapan.com di Balikpapan.

Pernah Ditawar Pejabat Kaltim Rp250 Juta

Kujang emas itu kini tersimpan di rumahnya Jogya sejak 2006 hingga sekarang ini. Bahkan kujang ini pernah ditawar oleh pejabat Kalimantan yang kini masih berkuasa. Pejabat itu pernah melihat fotonya dan menawar kujang emas dengan nilai Rp250 juta.

“Waktu itu saya tanya guru saya, boleh nggak ini ada yang tawar Rp250 juta. Jawabnya nggak boleh. Sebab di Indonesia hanya ada satu itu peninggalan Prabu Siliwangi. Ini sebenarnya pegangan untuk raja-raja terutama daerah barat,”tutur ustad yang kenal dengan petinggi politik di Provinsi Kaltim ini.

Ustad Abdul Hadi (kiri) dan Mbah Hasyim.
Ustad Abdul Hadi (kiri) dan Mbah Hasyim.

Keberadaaan kujang emas ini diakui hanya segelintir orang yang mengetahuinya. “Kalau sekarang dipublikasi kan nggak masalah kan barangnya tersimpan baik. Jadi kalau orang tertentu baru bisa lihat,” ujarnya.

Abdul Hadi yang pernah tujuh tahun mengajar di Pesantren Krapyak Jogya ini, memiliki pengobatan Hikmah Sejati. Pengobatan totok akupuntur dan Hiprnoterapi. Mengenai pendapat orang yang mengatakan barang pusaka itu bisa hilang jikan sudah berpindah tangan karena tidak cocok dengan penerimanya. Hadi menjelaskan. “Saya nggak tahu itu kadang-kadang pusaka ada yang begitu kalau kurang perawatan karena saya niat memiliki bukan untuk selamanya karena akan kembali ke Jawa Barat. Karena itu milik pusaka Jawa Barat. Milik tertinggi pusaka di Jawa Barat,” tuturnya.

Ditanya lebih jauh, mengapa tidak diberikan kepada pemerintah Jawa Barat? Abdul Hadi beralasan belum ada yang meminta. “Kalau sudah ada yang meminta dan sesuai (tepat penerimanya) karena Kujang emas ini untuk kedudukan bukan untuk pedagang atau pengusaha. Pasti dia ada pemimpin yang memang memerlukan,” tandasnya.

Simbol kujang emas ini menggambarkan kemakmuran daerah Jawa Barat yang dikenal kaya akan hasil bumi pertanian. Zaman dahulu, Jawa Barat sangat terkenal dengan swasembada padi dan geografis yang subur dan dingin. Bentuknya seperti tunas ini, menunjukan bahwa wilayah Jawa Barat sangat cocok dan bagus untuk pertanian.
“Ini harus karakter. Misalnya yang minta orang Kalimantan kan kurang pas. Yang khas Kalimantan kayak Lembusuana itu baru pas. Kalau Jawa Timur juga ngak pas. Jawa timur Itu Nogososro. Jadi memang harus sesuai karakter,” imbuhnya.

Perpindahan benda pusaka ke orang lainya, tambah Abdul Hadi ini tidaklah mudah. Apalagi jika barang yang dititipkan ini menolak akan justru berbahaya bagi penerimanya. “Guru saya bilang nggak bisa dilepas. Saya nggak berani. Karena kita dapat uangnya seandainya barang tidak menerima wah itu bisa bahaya. Malah bisa keluarnya lebih dari itu. Kalau kena bencana, penyakit malah habis toh,” tukasnya.

Comments

comments

1 COMMENT

LEAVE A REPLY