Fatayat NU Balikpapan Gelar Konfercab XI

0
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Dalam rangka melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi perempuan Islam Fatayat Nahdatul Ulama Cabang Balikpapan ini, Sabtu 19 Maret 2016 melaksanakan Konferensi Cabang Fatayat Nahdatul Ulama XI di hotel Mega Lestari Balikpapan. Acara rencananya dibuka walikota Rizal Effendi pukul 09.00 Wita.

Didampingi Ketua Muslimat NU Hj Kasriyah yang juga anggota DPR RI dari PPP dapil Kalimantan Timur, juga Hj Arita selaku Pembina Fatayat NU Balikpapan.

Menurut Hj.Rina Mariana pelaksanaan konfercab ini merupakan yang ke sebelas kalinya untuk memilih kembali ketua Fatayat Nahdatul Ulama yang saat ini dipimpin oleh Herni Elsafitri.

“Ini merupakan konferensi ke-11 untuk memilih ketua yang baru”ujarnya.

hj-marianaRina juga menambahkan, bahwa cara tersebut dihadiri 200 peserta dan undangan, yang terdiri dari pengurus dan anggota Fatayat Nahdatul Ulama dari tingkat Cabang hingga anak cabang Kemudian badan otonom (banom) NU, Muslimat NU, Anshor, IPPNU, IPNU.
Selain itu juga hadir pengurus wilayah Fatayat NU dan KNPI Balikpapan.

Sejauh ini telah muncul nama-nama kandidat yang akan bertarung dalam pemilihan yakni Hafsah pengurus cabang, Yeni yang diusung oleh anak ranting utara, bendahara cabang Fatayat NU Rina Mariana dan tak kalah kuatnya Herni Elsafitri ketua Umum Fatayat NU cabang Balikpapan. Keempat nama tersebut akan Memperebutkan 8 suara, 6 suara dari masing- masing 6 anak ranting (timur, utara, selatan, kota, tengah, barat) 1 suara dari pengurus wilayah dan 1 dari pengurus cabang.

Sementara itu Herni Elsafitri berharap perjalanan konfercab ini dapat berjalan dengan baik dan sukses, saat ditanya tentang dirinya yang menjadi calon kuat ia menyatakan menyerahkan sepenuhnya pada putusan konferensi.

“Saya serahkan pada peserta, siapapun yang akan terpilih nanti saya berharap organisasi ini maju dan mampu memberikan konstribusi besar untuk pembangunan Balikpapan,” katanya.

 

Sejarah Terbentuknya Muslimat NU

Sejarah mencatat bahwa kongres NU di Menes tahun 1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU. Sejak kelahirannya di tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka.

Para ulama NU saat itu masih berpendapat bahwa wanita belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak wanita cukuplah di rumah saja masih kuat melekat pada umumnya warga NU saat itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang cukup hangat tentang perlu tidaknya wanita berkecimpung dalam organisasi.

Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU di atas podium, berbicara tentang perlunya wanita NU mendapatkan hak yang sama dengan kaum lelaki dalam menerima didikan agama melalui organisasi NU. Verslag kongres NU XIII mencatat : “Pada hari Rebo ddo : 15 Juni ’38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe, …

Tentang tempat kaoem iboe dan kaoem bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah adalah terpisah satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih.”

Sejak kongres NU di Menes, wanita telah secara resmi diterima menjadi anggota NU meskipun sifat keanggotannya hanya sebagai pendengar dan pengikut saja, tanpa diperbolehkan menduduki kursi kepengurusan. Hal seperti itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940.

Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit tentang usulan Muslimat yang hendak menjadi bagian tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan agar usulan tersebut bisa diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan usulan tersebut, sehingga kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.

Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlanlah yang berupaya keras membuat semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses penerimaan dapat berjalan dengan lancar.

Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus yang menjadi cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian hari. Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggla 29 Maret 1946 / 26 Rabiul Akhir 1365. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Muslimat NU sebagai wadah perjuangan wanita Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.

Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan asal Pasuruan, isteri Dahlan. Ia merupakan salah seorang wanita di lingkungan NU itu selama dua tahun yakni sampai Oktober 1948. Sebuah rintisan yang sangat berharga dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan NU, sehingga keberadaannya diakui dunia internasional, terutama dalam kepeloporannya di bidang gerakan wanita.

Pada Muktamar NU XIX, 28 Mei 1952 di Palembang, NOM menjadi badan otonom dari NU dengan nama baru Muslimat NU.

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY