Top Header Ad

Donald Trump Sebut Zelenskiy Sebagai Diktator

Donald Trump Zelenskiy Diktator
Donald Trump katakan bahwa Zelenskiy seorang diktator yang tak terpilih lewat pemilu dan segera harus buat perdamaian (CFR)

WASHINGTON, inibalikpapan.com  – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sebagai diktator.

Pernyataan tersebut sekaligus peringatan bahwa ia harus bergerak cepat untuk mengamankan perdamaian atau berisiko kehilangan negaranya,

Ucapan ini memperdalam perseteruan antara kedua pemimpin tersebut yang telah membuat khawatir para pejabat Eropa.

Serangan luar biasa itu,  sehari setelah Trump mengklaim Ukraina yang bersalah atas invasi Rusia tahun 2022, meningkatkan kekhawatiran di kalangan  sekutu AS di Eropa.

Kekhawatiran ini adalah jika  pendekatan Trump untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina dapat menguntungkan Moskow.

Kurang dari sebulan menjabat sebagai presiden, Trump telah menjungkirbalikkan  kebijakan AS mengenai perang.

Dia juga mengakhiri kampanye untuk mengisolasi Rusia melalui panggilan telepon Trump-Putin dan pembicaraan antara pejabat senior AS dan pejabat Rusia yang telah mengesampingkan Ukraina.

“Seorang Diktator tanpa Pemilu, Zelenskiy sebaiknya bergerak cepat atau dia tidak akan memiliki negara lagi,” tulis Donald Trump di media sosial pada Kamis (20/2/2025) menggunakan ejaan alternatif untuk nama presiden Ukraina tersebut.

Menlu Ukraina Tanggapi Komentar Donald Trump

Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan tidak seorang pun dapat memaksa negaranya untuk menyerah.

“Kami akan mempertahankan hak kami untuk hidup,” kata Sybiha di X.

Kemudian pada hari itu, saat berbicara kepada para investor dan eksekutif di Miami, Trump menegaskan kembali pernyataannya.

Ia kembali menyebut Zelenskiy sebagai  diktator dan mengisyaratkan presiden Ukraina ingin memperpanjang perang untuk  menjaga agar kereta gravy tetap berjalan merujuk pada bantuan militer AS.

Masa jabatan lima tahun Zelenskiy seharusnya berakhir pada 2024, tetapi pemilu tidak bisa berlangsung di bawah darurat militer.

Ukraina berlakukan ini pada Februari 2022 sebagai respons terhadap invasi Rusia.

Kemarahan Trump muncul menyusul komentar Zelenskiy pada hari Selasa bahwa  Presiden AS tersebut mengulang-ulang disinformasi Rusia ketika ia menegaskan bahwa Ukraina  tidak seharusnya memulai perang, yang dimulai dengan invasi besar-besaran Rusia tiga tahun lalu.

Wapres AS Turut Peringatkan Zelenskiy

Wakil Presiden AS JD Vance pada hari Rabu memperingatkan Zelenskiy agar tidak “menjelek-jelekkan” Trump.

“Siapa pun yang mengenal presiden akan memberi tahu Anda bahwa itu adalah cara yang mengerikan untuk menangani pemerintahan ini,” kata Vance di kantornya di West Wing, seperti dilaporkan Daily Mail.

Rusia telah merebut sekitar 20 persen wilayah Ukraina dan perlahan tapi pasti menguasai wilayah timur.

Moskow mengatakan  operasi militer khusus itu menanggapi ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh upaya Kyiv untuk mendapatkan keanggotaan NATO.

Ukraina dan Barat menyebut tindakan Rusia sebagai perampasan tanah imperialis.

Pemimpin Ukraina mengatakan pernyataan Trump bahwa tingkat persetujuannya hanya 4 persen adalah disinformasi Rusia dan bahwa setiap upaya untuk menggantikannya akan gagal.

“Kami punya bukti bahwa angka-angka ini sedang dibahas antara Amerika dan Rusia. Artinya, Presiden Trump… sayangnya percaya dengan  disinformasi ini,” kata Zelenskiy kepada TV Ukraina.

Jajak pendapat terbaru dari Institut Sosiologi Internasional Kyiv, dari awal Februari, menemukan 57 persen warga Ukraina mempercayai Zelenskiy.

Menyusul pernyataan terbaru Trump,  Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan Zelenskiy  masih menjabat setelah pemilihan umum yang terselenggara secara sah.

Ketika ditanya siapa yang memulai perang, Dujarric menjawab bahwa Rusia telah menginvasi Ukraina.

Kanselir Jerman Angkat Bicara

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa  tidak benar dan berbahaya jika Trump menyebut Zelenskiy sebagai diktator, demikian dilaporkan surat kabar Jerman Spiegel.

Sekutu keamanan Australia, yang telah memberikan dukungan A$1,5 miliar kepada Ukraina dalam perangnya dengan Rusia, menolak pernyataan Trump tentang Ukraina.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan  perang di Ukraina harus tuntas sesuai dengan keinginan Ukraina, karena agresor di sini adalah Rusia”.

Pemimpin oposisi negara itu, Peter Dutton, berkata terus terang: “Saya pikir Presiden Trump salah”.

“Australia harus berdiri teguh dan bangga dengan rakyat Ukraina. Ini negara demokrasi, dan ini adalah perjuangan untuk peradaban. Vladimir Putin adalah diktator pembunuh, dan kita tidak boleh membiarkannya begitu saja,” kata Dutton.

Beberapa rekan Republik Trump di Kongres mengatakan mereka tidak setuju bahwa Zelenskiy adalah seorang diktator dan bahwa Ukraina memikul tanggung jawab atas invasi Rusia.

Namun mereka tidak mengkritik Trump secara langsung, dimana Pemimpin Mayoritas Senat John Thune sebagai pendukung lama Ukraina  mengatakan Trump membutuhkan  ruang untuk mengusahakan kesepakatan damai.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses